Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Kamis, 22 Mei 2014

Kala Itu, Kami Menyapih-mu, Nak


Menyapih anak adalah sebuah moment yang pasti akan ditemui dan dilewati setip orang tua. Apalagi jika mereka termasuk orang tua baru, alias baru punya anak satu. Ini pasti menjadi moment yang tak kalah penting dalam perjalanan hidup ini. Tapi ini bagi yang anaknya minum ASI. 

Putriku, kala itu usiamu baru genap 23 bulan, dalam hitungan kalender Masehi. Kalau hitungan bulan Hijriah ya sudah genap 24 bulan. Di saat banyak sekali para orang tua, dari tetangga-tetangga kita, juga saudara-saudara kita. Mereka selalu menghembuskan kata-kata, serta bisikan-bisikan halus untuk segera menyapihmu. 

Mereka beralasan, kalau anaknya semakin besar, maka semakin susah menyapihnya. Karena anak semakin bisa mengerti enaknya ASI, dan semakin mengerti juga kalau disapih. Pasti anak tidak akan mau. Dan proses penyapihanpun akan berlangsung lama dan susah. Itulah gambaran-gambaran yang mereka sampaikan kepada Umi dan Abimu ini, Nak. 

Ketika telinga kami mendengar semua ucapan mereka, dan juga menyimak dengan seksama rentetan nasehat itu, kami hanya tersenyum kecil sambil menganguk. Tak ada jawaban dan sanggahan apalagi pertanyaan yang keluar dari mulut kami. 

Walau dalam hati seorang Umi, pilu sekali rasanya. Jika membayangkan momen itu. Dimana anak kesayangannya merengek minta ASI. Dan seorang Umi yang setiap saat mengabulkan dan melihat anaknya bertingkah manja ketika selesai mendapatkan apa yang ia minta. Lalu saat itu tidak memberinya. Bahkan harus membiarkan anaknya sampai menangis hanya karena tidak memberinya ASI. 


Dalam keheningan malam itu, kami coba berdiskusi. Dimana ketika putri kami sudah terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Ku coba ungkapkan semua gundah yang memenuhi dada ini. Dengan tenang suamiku menjawab, "lha umi sudah siap menyapih anak kita belum?". Sebuah pertanyaan yang ringan. Tapi bisa membuat yang menjawab menitihkan air mata. 


Ku jawab, "iya lah mungkin siap", dengan berat ku tetap punya keyakinan. Di dalam diskusi kami, kami punya argumen yang berbeda dari argumen beliau-beliau yang menasehati kami. Putri kita kan sudah semaki besar. Dia juga sudah bisa memahami kata-kata orang tuanya, juga nasehatnya. Harusnya, dengan daya tangkap dan pehaman yang semakin bertambah berarti akan memudahkan kita untuk menyapihnya. Karena dia bukan bayi lagi. 

Juga dalam Syariat agama kita, di anjurkan ketika umur 2 tahun, berarti kan ini waktu yang tepat. Biasanya kalau tepat berarti tidak susah. Begitulah kira-kira hasil akhir dari diskusi kami. 

Hari itu, kami sudah berniat dan bertekad untuk menyapihnya. Setelah seharian dia bermain bersama teman-temannya. sore hari sehabis Asar kami konsultasi sama kakak ipar kami. Bagaimana cara menyapih anak sekaligus trik-triknya. 

Sampai sore hari putri kami belum minta ASI, memang sengaja tidak kami panggil untuk minum ASI pada jam-jam tertentu tidak seperti biasanya. Juga dia tidak bobok siang seperti hari-hari kemaren. Memang sengaja pikir kami, biar sekalian capek. Nanti boboknya biar cepat. 

Setelah mandi sore, dia mulai minta ASI, "Umi, mimik mi!". Dari sebuah ucapan yang seperti biasa, dengan manjanya, sampai rengekan,Kata-kata itu terus keluar dari mulutnya. Akhirnya tangisnyapun pecah. "Umi, mimik mi!". Dengan linangan air mata dia terus ucapkan kata itu. Pilu, sedih semuanya campur aduk. Akhirnya ku kasih dia ASI, seperti saran kakak ipar kami, kami kasihlah minyak kayu putih. Jadi setiap dia menyentuh, dia merasakan pahit. 

"Kenapa mimiknya adek pahit!", dia bertanya terus, tapi kami tak menjawabnya. Lalu abinya mulai mengajaknya menjauh dari Umi. Menggendongnya, menyanyikannya dan menghiburnya. Kemudian ku coba membuatkan susu setengah gelas kecil, dengan harapan dia mau meminumnya. 

Kuberikan gelas berisi susu itu. Alhamdulillah dia mau meminumnya. Jarum jampun terus berputar. menjelang maghrib putri kami tertidur dalam gendongan Abi tercinta. Dengan pelan-pelan sekali putri kami di turunkan dari gendongan, takutnya sedikit gerakan yang agak kuat nanti bisa membangunkannya. 

Alhamdulillah frase pertama sudah kami lewati. Sedih sekali rasanya hati seorang Umi. Yang biasanya dengan murah hati memberikan ASI kepada putrinya, kini harus menjadi orang yang super pelit kepada putrinya. Lebih dari itu, sampai-sampai ASIpun diolesi minyak kayu putih supaya putrinya kepahitan. Sungguh sangat bertolak belakang sekali. 

Malam mulai menyelimuti desa kami, malam itu tetap hening layaknya malam-malam biasanya. Seakan tidak terasa kalau di tengah-tengah desa itu ada seorang balita lagi sedih karena tidak boleh "mimik mi". 

Seperti biasanya, putri kami akan terbangun di tengah malam untuk minta ASI. Saya mulai mengolesi ASI dengan minyak kayu putih lagi. Dia menjerit, kepahitan. Tangisnya pun pecah kembali. Dengan sigap Abinya membuatkan susu. Karena saking laparnya ia mau meminum susu iti. Setelah selesai minum ia kembali menangis, merintih. Sedih sekali mendengarnya. 

Sebagai seorang Ibu, saya bisa membedakan suara tangisan anak saya. Mana yang menangis karena dibuat-buat, menangis manja, menangis minta pembelaan, menangis karena jengkel, menangis karena bersalah, dan menangis karena sedih. Mendengar tangisan putri kami. Hati ini rasanya bak tertusuk-tusuk sembilu. Dalam remang-remang lampu malam itu, tak sanggup ku menahan linangan air mata ini. 

Abinya bangkit untuk menggendongnya dan meninabobokannya lagi. Sampai dalam pelukan Abinya ia mengigau "mimik mi". Tangisannya pecah berkali-kali pada malam itu, abinyapun tak bosan-bosan untuk menggendong putri kami, sampai ia terlelap kembali. 

Hingga fajar menyingsing di ufuk timur. Lega rasanya, perjuangan kami semalam suntuk untuk menenangkan putri kecil kami. Di pagi hari setelah mandi pagi, saat emosi putri kami sudah mulai stabil, baru kami jawab. "Nak, mimik mi pahit karena adek sudah waktunya di sapih. Disapih itu artinya sudah waktunya berhenti mimik mi. Mulai sekarang adek mimiknya susu dan air putih di gelas". Begitulah penjelasan kami di pagi hari itu. 

Putri kami menyimak penjelasan itu dengan seksama, seakan-akan dia faham akan hal itu. Alhamdulillah setelah itu dia mau minum susu dan air putih di gelas. Memang sesekali masih keceplosan "mimik mi" disetiap waktu. Apalagi sebelum tidur. Tapi tidak jadi apa, semuanya butuh proses. Allah pasti membantu hambanya. 

Kami menyapih dengan trik yang berbeda dari kebanyakan orang. Kami tak perlu membawa anak kami kedukun, tidak juga minta telur dan air putihdari mbah dukun. Dan juga tidak perlu melakukan semua ritual, layaknya nenek moyang kami. Kami murni menyapih putri kami langsung dengan minta pertolongan Allah. 

Oleh: Umi Nada



Putriku bacalah ini, catatan Umi dan Abimu, kelak jika kamu sudah bisa membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar